Inkonsisten

Semua itu relatif, maka jadi inkonsisten itu pasti

May 23

Kebahagiaan

Seringkali dogma buku yang sebegitu meyakinkannya segera patah di hadapan pengalaman. Acap kali pula terjadi ketika rasionalitas tidak memuaskan, bahkan hanya memberikan kebahagiaan yang semu dan menjemukan. Di saat-saat ketika dogma buku dan rasionalitas tumpul, di sanalah insting (atau orang sering sebut emosi) yang memimpin.

Bila kutimbang dengan rasioku, akan lebih baik, mudah, dan cepat jika aku menyingkirkanmu dari sudut-sudut ingatan. Tidak usah peduli, tidak ambil pusing, dan sepenuhnya membuang perasaan tentang dia.

Masalahnya: manusia bukan cuma daging yang membalut tulang, dengan tengkorak berisi jaringan kompleks yang lunak bernama otak. Manusia punya sesuatu yang misterius dalam dirinya—dan aku tak tahu letak persisnya di mana—yang mampu menggerakkan seseorang menangis saat melihat seorang anak kelaparan dan memutuskan untuk membuang semua karier suksesnya lalu minggat ke Afrika menjadi pekerja sosial.

Orang sering mencemooh orang lain yang bertindak berdasar emosi (atau menurutku: insting). Tapi hidup hanya bermodal rasio dan dogma tak akan menghasilkan kebahagiaan.

Kebahagiaan tidak cuma senyum dan tawa. Kebahagiaan ada perasaan puas saat menanggung sakit, melampauinya, berjuang, memeroleh hasil atas perjuangan.

Beberapa bulan ini aku hidup dipimpin dogma buku dan rasio. Nyatanya, selalu ada momen yang menyadarkan: aku hanya dapat bahagia semu, aku merindukan sesuatu yang aku bersikeras menolaknya.

Jadi malam ini, setelah melewati sebuah situasi yang rumit, yang membuatku serasa disiram air es, yang membuat sendi-sendiku gemetar, aku memutuskan untuk menyerahkan kompas kepada sang perasaan. Ia yang akan menentukan tujuan, sementara rasio dan dogma buku kupakai untuk mengarahkanku semakin dekat dengan tujuan itu.

Berakit ke hulu, berenang ke tepian. Dan: hidup adalah soal pilihan. Kepadamu, ya aku akan menunggumu. Aku akan berusaha menggapaimu. Untuk sementara ini menurutku itulah sesuatu yang disebut “Kebahagiaan”.[]


May 19

Ngeri

Nah. Jadi dia tiba-tiba saja menghilang. Karena apa, untuk apa, dan bagaimana: aku gak mau tahu. Soalnya: dia gemar menyusun rencana-rencana rahasia. Dan ditanya pun, bila dijawab hanya akan bikin kecewa Biasanya. Kadang plus marah sedikit. Jadi sekarang jalan paling baik adalah dengan diam.

Sayangnya, sebelum menghilang, kita sempat berpandang-pandangan. Dia tambah gemuk sedikit. Tapi gemuk bukan alasan buat gak rindu dia saat ini.

Asulah. Rindu itu asu. Apalagi rindu yang dijejali rasa penasaran kaya gini.

Aku kangen. Serius. Tapi gak berani tanya, walau ingin sekali sebenarnya. Dan kamu tahu, aku cuma bisa ngomong sama blog.

Oke, udah dulu ya. Aku gak mau mimpiin kamu. Ngeriii.


May 14

Seharusnya Aku Sudah Tidur

Air mata bisa turun setiap saat. Di hari yang cerah dan energi yang meruah; ketika hujan berderai disertai badai; saat sedang memasak di dapur; bahkan saat hendak tidur sekalipun.

Air mata minta turun pagi ini. Ketika mata harusnya mengatup karena ngantuk. Sebabnya selalu sepele. Selalu sepele. Selalu ada waktu di mana pertahanan runtuh.

Katakanlah hingga beberapa hari yang lalu aku berhasil bermain dengan pertahanan yang bagus. Toh, ada celah juga. Rasanya sedih: suatu ketika ada orang yang memohon untuk disayangi. Mungkin kita terlalu pede dan buru-buru datang padanya. Memberinya apa yang sekian lama kita simpan saja. Lalu setelah kasih sayang yang singkat, tahu-tahu dia justru pergi dalam diam.

Intinya mau bicara apa saja aku bingung. Aku cuma kecewa karena bersikap lengah kemarin-kemarin. Ah, aku cuma ingin menangis. Rasa benci sebenci-bencinya meluap, naik terus, sampai ke puncak kepala.

Ah! Menyesal rasanya!

Mengapa orang yang dikasihi justru tidak mau mengerti. Apakah tidak mungkin kita duduk berdua, lalu kamu mendengarkan permintaanku, dan segera saja mengiyakannya?

Sumpah, ini rumit sekali. Aku sungguh benci.


May 6

Ja-sagender

Seorang “teman”—dengan tanda petik—mengabari dua hari lalu: dia sudah bekerja.

Teman ini adalah persona yang jadi panutanku untuk bermalas-malasan. Dialah yang mengajari orang bahwa hidup tidak harus ditebus dengan menjadi rajin dan menikmati waktu luang dengan tidak melakukan apapun adalah nilai hidup yang sebenarnya. Tahu-tahu dia kini bekerja.

Dia sudah baca buku yang sedang aku baca. Nietzsche, karangan St. Sunardi terbitan LKiS. Tapi aku ingin mengulang, Nietzsche percaya, hidup adalah kehendak untuk berkuasa. Kehendak ini bergelora manakala manusia berjumpa dengan kesulitan-kesulitan hidup yang mengharuskan dia melampauinya (mengatakan “ya” pada persoalan hidup, menjadi “ja-sagender”).

Bermalas-malasan itu menyenangkan, namun menihilkan tantangan yang menghidupkan hidup. Mungkin temanku ini tidak begitu menyukai habitus bekerja di kantor. Namun dengan begitu, aku pikir, hidupnya akan menjadi lebih bermakna.

Bermalas-malasan itu penting, tapi tidak harus sekonsisten ia layaknya biasa. Jadi aku hendak mengucap selamat sekali: selamat telah berani keluar dari zona aman :)


Apr 23

Souljah, Lelaki Itu. Duh, aku sedang suka sekali dengan lagu ini :* 


Bebas

Semangat kita harus Dionisian. Itu istilahnya Nietzsche. Maaf, aku habis buka buku ttg dia dan jadi latah mengutap-ngutipnya. Bukan berarti aku tidak jd manusia bebas. Itu masalah lain. Yg penting ttg Dionisian ini lebih dulu.

Semangat apolonian menciptakan keindahan dalam seni untuk menipu hidup. Itulah Disney Land, (beberapa) film, dan kuliah motivasi. Mengapa (kesakitan) hidup mesti ditolak? Bahkan kehidupan yang aku impikan bahagia pun, spti nebula istanasentrisnya Putri Diana, juga membawa penderitaan. Penderitaan semestinya selayaknya opera tragedi Yunani. Pahlawan datang, selangkah dengan kejayaan, lalu tiba-tiba mati konyol. Kekalahan harus diafirmasi. Diterima. Lalu diolah dalam peristiwa-peristiwa hidup selanjutnya.

Aku tahu bahwa mengutip adalah bukti lemahnya rasioku dalam menciptakan pemikiran sendiri. Tapi adakah yang orisinil di dunia ini selain semua yang bermula pertama kali di muka bumi? Selanjutnya cuma ada repetisi-repetis-dan repetisi. Bahkan kehendak untuk bebas pun bukan gagasan murni dari kedalaman jiwaku sendiri.

Aku ingin bicara banyak tentang kontemplasi (tiba-tiba aku teringat pepatah Ceko yang Kundera kutip dalam La Lenteur, ils contemplent les fenêtres de Bon Dieu, mereka merenungkan jendela Tuhan Yang Pengasih), tapi aku dihantui pendapat Kartini bahwa dia tahu jika pikirannya belum cukup matang untuk dituliskan dalam sebuah risalah. Aku siapa? Sudah seberapa banyak aku menyimpan pengalaman sebelum menuliskannya kemudian?

Sumpah, ini subuh yang rumit dan aku kurang suka. Aku butuh teman untuk mendengarkan pikiranku yang terus-menerus minta dibebaskan. Inikah agony? Oh, hidup deritanya tiada akhir.


Page 1 of 19