Kebahagiaan
Seringkali dogma buku yang sebegitu meyakinkannya segera patah di hadapan pengalaman. Acap kali pula terjadi ketika rasionalitas tidak memuaskan, bahkan hanya memberikan kebahagiaan yang semu dan menjemukan. Di saat-saat ketika dogma buku dan rasionalitas tumpul, di sanalah insting (atau orang sering sebut emosi) yang memimpin.
Bila kutimbang dengan rasioku, akan lebih baik, mudah, dan cepat jika aku menyingkirkanmu dari sudut-sudut ingatan. Tidak usah peduli, tidak ambil pusing, dan sepenuhnya membuang perasaan tentang dia.
Masalahnya: manusia bukan cuma daging yang membalut tulang, dengan tengkorak berisi jaringan kompleks yang lunak bernama otak. Manusia punya sesuatu yang misterius dalam dirinya—dan aku tak tahu letak persisnya di mana—yang mampu menggerakkan seseorang menangis saat melihat seorang anak kelaparan dan memutuskan untuk membuang semua karier suksesnya lalu minggat ke Afrika menjadi pekerja sosial.
Orang sering mencemooh orang lain yang bertindak berdasar emosi (atau menurutku: insting). Tapi hidup hanya bermodal rasio dan dogma tak akan menghasilkan kebahagiaan.
Kebahagiaan tidak cuma senyum dan tawa. Kebahagiaan ada perasaan puas saat menanggung sakit, melampauinya, berjuang, memeroleh hasil atas perjuangan.
Beberapa bulan ini aku hidup dipimpin dogma buku dan rasio. Nyatanya, selalu ada momen yang menyadarkan: aku hanya dapat bahagia semu, aku merindukan sesuatu yang aku bersikeras menolaknya.
Jadi malam ini, setelah melewati sebuah situasi yang rumit, yang membuatku serasa disiram air es, yang membuat sendi-sendiku gemetar, aku memutuskan untuk menyerahkan kompas kepada sang perasaan. Ia yang akan menentukan tujuan, sementara rasio dan dogma buku kupakai untuk mengarahkanku semakin dekat dengan tujuan itu.
Berakit ke hulu, berenang ke tepian. Dan: hidup adalah soal pilihan. Kepadamu, ya aku akan menunggumu. Aku akan berusaha menggapaimu. Untuk sementara ini menurutku itulah sesuatu yang disebut “Kebahagiaan”.[]